Banten

Dino Patti Djalal Bicara Blak-blakan Usai Arrmanatha Nasir Jadi Menlu, Ada 3 Pesan Penting yang Harus Segera Dibenahi

Abdurahman | 2 Oktober 2026, 18:46 WIB
Dino Patti Djalal Bicara Blak-blakan Usai Arrmanatha Nasir Jadi Menlu, Ada 3 Pesan Penting yang Harus Segera Dibenahi
Eks Wamenlu Dino Patti Djalal beri pesan untuk Menlu Arrmanatha Nasir terkait diplomasi Indonesia. (Instagram/dinopattidjalal)

AKURAT BANTEN– Arrmanatha Christiawan Nasir resmi mengemban tugas baru sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Diplomat karier yang akrab disapa Tata itu menggantikan Sugiono, yang kini dipercaya menduduki posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Pelantikan tersebut menjadi bagian dari perombakan Kabinet Merah Putih.

Pergantian pucuk pimpinan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) itu langsung mendapat perhatian dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal.

Dino menyambut penunjukan Arrmanatha dengan positif. Ia bahkan menyebut Tata sebagai diplomat karier yang memiliki pengalaman panjang serta rekam jejak yang dihormati di lingkungan diplomasi Indonesia maupun negara-negara sahabat.

Namun, di balik ucapan selamat tersebut, Dino juga menitipkan tiga pesan penting yang menurutnya perlu menjadi perhatian Menlu baru.

Pesan tersebut menyentuh persoalan fundamental, mulai dari arah politik luar negeri Indonesia, kondisi anggaran diplomasi, hingga hubungan pemerintah dengan masyarakat sipil.

Pergantian Menlu bukan sekadar pergantian jabatan. Ada pekerjaan besar yang harus segera dibenahi agar diplomasi Indonesia tetap kuat, berani, mandiri, dan benar-benar mampu memperjuangkan kepentingan nasional.

Baca Juga: Saham GOTO Hancur 44 Persen! Laba Membesar, Tapi Saham Malah Ambruk hingga Rp28

1. Politik Luar Negeri Indonesia Harus Berani dan Mandiri

Pesan pertama Dino berkaitan dengan karakter politik luar negeri Indonesia.

Menurut Dino, Indonesia harus tetap memiliki keberanian untuk memperjuangkan prinsip-prinsip hubungan internasional dan tidak mudah tunduk pada tekanan negara mana pun, termasuk negara dengan kekuatan besar.

Bagi Dino, politik luar negeri Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada kepentingan domestik.

Indonesia juga perlu mengambil peran aktif dalam membentuk serta memperbaiki arsitektur kawasan dan global, terutama ketika dunia menghadapi perubahan tatanan geopolitik yang semakin kompleks.

Pesan ini menjadi relevan karena Arrmanatha sendiri sebelumnya memiliki pengalaman panjang di panggung diplomasi multilateral, termasuk dalam urusan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Karier tersebut menjadi salah satu modal yang dibawanya ketika kini dipercaya memimpin Kemlu.

Arrmanatha sendiri setelah dilantik menegaskan bahwa arah politik luar negeri Indonesia akan tetap mengikuti mandat konstitusi dan arahan Presiden Prabowo.

Ia juga menyatakan akan melanjutkan hal-hal yang telah dilakukan dengan baik oleh pendahulunya, Sugiono.

Dengan demikian, tantangannya bukan sekadar menjaga kesinambungan kebijakan, tetapi bagaimana Indonesia tetap mampu memainkan peran aktif di tengah perubahan geopolitik dunia.

Baca Juga: Remaja 17 Tahun yang Tenggelam di Jembatan Grendeng Tangerang Ditemukan Tewas

2. Anggaran Diplomasi Jadi Sorotan Serius

Pesan kedua Dino jauh lebih spesifik.

Ia meminta Arrmanatha memperhatikan kondisi anggaran Kementerian Luar Negeri, khususnya dukungan terhadap para diplomat Indonesia yang bertugas di luar negeri.

Dino menyoroti adanya kesenjangan antara kebutuhan operasional diplomat dengan dukungan anggaran yang tersedia.

Ia bahkan menggambarkan sebuah ironi: ketika tamu negara yang datang ke Jakarta dapat memperoleh pelayanan protokoler dengan kemegahan, diplomat Indonesia di luar negeri justru disebut menghadapi keterbatasan anggaran untuk menjalankan kegiatan diplomasi.

Salah satu contoh yang disampaikan Dino adalah keterbatasan anggaran untuk menggelar resepsi diplomatik dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di luar negeri.

Menurut Dino, persoalan anggaran tersebut bukan perkara kecil.

Diplomat membutuhkan dukungan untuk menjalankan berbagai inisiatif, termasuk mempromosikan Indonesia sekaligus menindaklanjuti hasil-hasil kesepakatan yang dicapai pemerintah.

Apalagi, menurut Dino, intensitas perjalanan luar negeri Presiden juga perlu diikuti dengan kemampuan diplomat di lapangan untuk melakukan tindak lanjut diplomatik.

Ada kesenjangan antara anggaran dan kebutuhan operasional. Kalau Indonesia ingin memainkan peran strategis di kawasan dan dunia, dukungan terhadap diplomat di lapangan tidak boleh diabaikan.

Sorotan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang kini berada di meja Arrmanatha.

Baca Juga: Dua Proyek Properti Alam Sutera Group Raih Penghargaan Indonesia Real Estate Awards 2026

3. Pemerintah Diminta Tetap Membuka Ruang Dialog dengan Masyarakat Sipil

Pesan ketiga Dino berkaitan dengan hubungan antara pemerintah dan masyarakat sipil.

Dino berharap Menlu Arrmanatha terus menjaga kerja sama serta komunikasi dengan kalangan masyarakat sipil, termasuk komunitas yang selama ini aktif membahas politik luar negeri Indonesia.

Menurutnya, dialog dan kepercayaan antara pemerintah dengan masyarakat merupakan bagian penting dalam menjalankan diplomasi.

Ia juga menilai keterlibatan Menlu, bahkan Presiden, dalam forum-forum politik luar negeri menjadi penting untuk membangun komunikasi dengan publik serta komunitas kebijakan luar negeri.

Salah satu momentum yang disoroti Dino adalah konferensi politik luar negeri yang akan berlangsung di Jakarta pada 21 November 2026.

Bagi Dino, forum semacam itu dapat menjadi ruang untuk membahas berbagai persoalan strategis sekaligus mempertemukan pemerintah dengan komunitas yang memiliki perhatian terhadap arah politik luar negeri Indonesia.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya mengenai kebijakan apa yang akan diambil pemerintah.

Lebih jauh, seberapa terbuka ruang dialog antara pemerintah dengan berbagai kelompok masyarakat yang mengikuti perkembangan politik luar negeri Indonesia.

Baca Juga: Buntut Polemik Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Dirjen Pemasyarakatan Mashudi Mundur, Ada Apa di Balik Keputusan Ini?

Dino dan Arrmanatha Sama-Sama Berasal dari Dunia Diplomasi

Pesan Dino memiliki konteks tersendiri karena ia dan Arrmanatha sama-sama memiliki pengalaman panjang di lingkungan diplomasi.

Arrmanatha bukan figur baru di Kemlu. Sebelum menjadi Menlu, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri sejak Oktober 2024. Ia juga pernah menjalankan berbagai tugas diplomatik, termasuk sebagai Duta Besar RI untuk Prancis serta penugasan di lingkungan PBB.

Dino sendiri pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri dan kini aktif melalui FPCI dalam berbagai diskusi mengenai hubungan internasional.

Karena itu, pesan yang disampaikannya kepada Tata bukan sekadar ucapan selamat setelah pelantikan.

Ada sejumlah persoalan struktural yang ia minta menjadi perhatian Menlu baru.

Di sisi lain, Arrmanatha telah menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan mandat politik luar negeri Indonesia sesuai arahan Presiden Prabowo.

Ia juga meminta jajaran Kemlu untuk melanjutkan kerja sama yang telah berjalan dengan baik.

Baca Juga: Transformasi Digital, Sekretariat DPRD Banten Integrasikan Layanan Lewat E-Setwan

Tiga Pesan, Satu Tantangan Besar

Jika dirangkum, tiga pesan Dino Patti Djalal kepada Arrmanatha Nasir bermuara pada tiga hal besar: keteguhan arah politik luar negeri, pembenahan dukungan anggaran diplomasi, dan penguatan dialog dengan masyarakat sipil.

Ketiganya kini menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi Arrmanatha setelah resmi duduk di kursi Menteri Luar Negeri.

Dengan pengalaman panjang sebagai diplomat karier, Tata memiliki latar belakang yang erat dengan dunia diplomasi.

Namun, jabatan sebagai Menlu membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Indonesia harus mampu mempertahankan kepentingan nasional di tengah perubahan geopolitik, memastikan diplomat memiliki dukungan memadai di lapangan, sekaligus menjaga komunikasi dengan masyarakat yang mengikuti arah kebijakan luar negeri.

Dino telah menyampaikan pesannya.

Kini perhatian tertuju kepada Arrmanatha Nasir: bagaimana tiga pesan tersebut akan diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di Kementerian Luar Negeri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman